SEBUAH PERTEMUAN
May 17th, 2009 by makaribi-Di batas cakrawala-Mu Engkau warnai lembayung sebelum malam-
Di sore itu hujan tak turun
Langkah kakinya menyusuri lantai stasiun…
di jantung kota masih sempat ia nikmati senja
Ahh takdir selalu menyimpan rahasia tak terduga, pikirnya
Sore yang hening
hati yang bening
Dan seperti langit mempertemukan musim, mereka pun berjumpa
Lalu doa-doa terbang ke cakrawala
-ingin disandarnya dari penat lelahku, ingin diteduhnya dari panas duniaku-
“Maka Tuhan Jadikanlah ia rumahku yang merindukanku untuk selalu kembali”
Sontag, Citra, Waktu (Fotografi)
November 16th, 2008 by makaribiJika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan-Susan Sontag menggartikan kalimat ini di buku On Photography. Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi-dan tentu saja sinema-adalah bahasa, sudah muncul juga, misalnya, pada André Bazin. Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, Sontag menggarap dan memperkokoh pendirian itu lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”, Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justru bercita-cita menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun-serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah.
Di buku Regarding the Pain of Others, Sontag kembali mengangkat kekuatan fotografi-khususnya kekuatan yang membuat meta-seni pelukisan dengan cahaya itu sanggup mewujudkan cita-cita mustahil sastra. Watak obyektif pada fotografi adalah sesuatu yang niscaya: hubungan antara fotografi dan obyektivitas adalah hubungan antara garam dapur dan rasa asinnya, antara butir intan dan kerapian struktur karbonnya. Sesuatu bahkan bisa disebut benar-benar terjadi jika ada fotonya-sebuah jaminan sekaligus tilas yang diabadikan bukan oleh makhluk hidup yang bisa subyektif, tetapi oleh benda mati yang tak punya pikiran dalam dirinya sendiri: kamera. Namun, kamera bisa mengabadikan tilas karena ada tangan yang membidikkannya; subyek yang punya pikiran sendiri. Gabungan antara kamera dan fotografer itu memungkinkan fotografi menjadi rekaman obyektif sekaligus testimoni pribadi; menjadi copy atau transkrip sebuah momen aktual realitas, serentak interpretasi atas realitas itu. Paduan dua segi istimewa yang saling langgar ini, menurut Sontag, adalah cita-cita abadi sastra yang tak dapat diwujudkan secara harfiah oleh sastra.
Oleh : Nirwan Ahmad Arsuka (Jurnal Kalam)
Naluri Manusia III
November 9th, 2008 by makaribiBeberapa waktu yang lalu lagi-lagi saya harus berurusan dengan pencopet, waktu itu saya didalam bus sepulang dari Cianjur. Entah ini kali keberapa pencopet mencoba “menggasak” saya. Beberapa kali dijakarta atau dalam kereta api. Dan hasil mereka sama = Nihil, alias dompet dan HP saya masih aman. Tapi orang dibelakang saya sempat kena jambret HP-nya lantas ia segera berteriak, pencopet itu pun melempar kembali HP-nya (karena tahu bahwa yang dijambret itupun juga berombongan) : dasar apes kok ketahuan. sebelum pencopet itu loncat turun, saya sempat berteriak “udah pukulin aja”… dan saya merasa sebagai provokator.
Beberapa kali dalam kondisi yang menegangkan seperti itu saya selalu mencoba tenang, karena saya tahu mereka tidaklah bersendiri melainkan berkelompok tiga atau empat orang. Sementara saya sendirian. Jika saya berteriak bukan tidak mungkin malah saya-lah yang mereka pukulin beramai-ramai.
Mengingat hal itu saya tiba-tiba mengenang kembali kenakalan masa-masa kecil. Seperti mencuri jambu tetangga pada waktu SD, ataupun suka memalak teman waktu SMP. Yah semua itu tak lepas dari pengaruh teman-teman main saya waktu itu. Misalnya teman main yang lebih tua dari saya selalu membantu saya jika saya berantem. Dan dari dia pula yang mengenalkan “tradisi” memalak. Tapi kini teman itu pun telah meninggal karena sakit, dulu dia sering juga mengkonsumsi alkohol dan ganja.
Sebelum terlanjur, Ayahlah yang waktu saya SMP menerangkan dan menasehati hal-hal yang tidak benar yang dilakukan teman-teman main saya waktu itu. Ayah selalu membatasi pergaulan saya dan tak segan-segan untuk memukul saya jika saya membantahnya. Kini saya tahu apa arti dari semua kekerasan itu. Saya sadar akhirnya semua itu berbuah manis bagi saya.
Maka tak heran jika beberapa tahun kemudian ketika beberapa teman bertemu saya, mereka ada yang berbagi cerita menjadi pengamen, pencopet atau bahkan tentang penjara. Yah mereka semua adalah bagian dari masa kecil saya. Dan (mungkin) saya masih mereka anggap sebagai teman.
Akhirnya tentang pencopet didalam bus itupun tak saya anggap berlarut-larut, karena mungkin. Teman main saya waktu kecil ada yang seperti mereka.
- Kita tumbuh bukan untuk mencari jati diri tetapi menciptakan jati diri -
bersambung
Puisi dan Fotografi, dua dunia berbeda, satu rasa. (sebuah coretan saja)
November 9th, 2008 by makaribi
tentangku, Ayah dan kakekku.
1\\
Dulu ayah suka melukis
sebelum masa mengenal kapur tulis
kala itu ia pakai pensil tubuhnya masih dekil,
ia tak tahu kapan benar-benar suka membuat rupa,
mungkin sejak ia ditinggal ayahnya dan ia masih balita,
mungkin saat itu ia mulai suka menggambar foto kakek di ruang tamu
orang yang baru sempat tiga kali ketemu,
Tapi ayah belum tahu apa itu rindu
2\\
Kakek : tentara yang meninggal muda
beliau wafat sepulang dari halmahera dalam sebuah kecelakaan bis,
Dan kata ayah, kakek suka menulis,
sebelum wafat ia sempat titipkan pena dan buku dari saku bajunya.
3\\
Dari kecil ayah suka memberiku atribut tentara
dari baju, tas hingga celana, katanya aku ini cucu tentara.
Ah kakek yang tak pernah kulihat wajahnya. waktu berlalu dan aku beranjak remaja
“ayah aku ingin masuk tentara”
tapi ayah diam saja,
lalu ibu berbisik “nenekmu tidak suka anak-cucunya menjadi pelukis, penulis atau tentara”
……………………………………..
waktu saya kecil (SD) saya ingat betul, saya suka main musik dan melukis. Pernah ikut lomba grup musik, walaupun pada akhirnya hanya mendapat juara harapan di tingkat kabupaten. Dan melukis ? hmm saya sering diikutkan lomba dan hasilnya sangat mengecewakan, harus puas diurutan dua di sekolah saya waktu itu. Lalu puisi ? puisi tidak saya anggap sebagai sebuah kesukaan melainkan sebuah pembawaan. Kenangan saya dengan puisi adalah kenangan kekecewaan, kecewa karena tak jadi mewakili sekolah dalam lomba baca puisi, kecewa karena karya saya tak pernah dimuat sekalipun dalam media masa… yah mungkin puisi-puisi saya adalah puisi “mentah”. Tapi entah kenapa puisi tak bisa lepas dari hidup saya. Seperti ketika sepi ketika sendiri, ia mengalir begitu saja seperti napas. Puisi bagi saya sangat individualistik. Saya tetap bisa menikmatinya meski saya baca pada waktu yang jauh berbeda. Karena ia telah merekam dunia kecil saya secara sublim.
Saya berhenti bermain musik, waktu itu karena saya tahu ayah saya memainkan lebih baik dari pada saya. Dan saya pun tak berminat lagi untuk belajar atau bahkan kursus seperti yang teman lain lakukan.
Tentang melukis, ayah-lah yang mengajari saya. ketika kecil saya sering memintanya untuk menggambarkan yang saya inginkan… Dan ketika SMP saya lebih menyukai gaya “ekspresionisme” dari pada gaya ayah saya yang “realisme”.
Dan ayah-pun tak pernah melukis lagi, semenjak Drop Out dari Arsitektur UI karena keterbatasan biaya. Sekarang dimasa tuanya saya yang masih berharap ia mau melukis lagi… namun ia menjawab “nenekmu tak suka aku melukis”.
Kesukaan melukis saya telah lama terpendam. Karena waktu yang mulai terbatas kini… Akankah kesukaan saya melukis bisa terwakilkan oleh fotografi ? saya pikir iya. karena ayah pernah bilang : “fotografi itu melukis dengan cahaya”.
yah saya masih belajar. karena hidup adalah belajar tiada henti…
……..
Dihadapan-Mu aku ingin menjadi kamera
memotret setiap keindahan yang Kau cipta dengan sengaja
Dihadapan-Mu aku ingin menjadi puisi
untuk setiap sunyi yang engkau beri
…….
Naluri Manusia II
September 23rd, 2008 by makaribiTan Malaka pernah bertanya : “Mengapa Tuhan menciptakan manusia kemudian hanya untuk mendapatkan hukuman ?”
Untuk pertanyaan itu, pertama kali saya mengutip silogisme ke-absolut-an Tuhan, dalam Alquran Al Ikhlas 1-4 :
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Dari situ kemudian saya meloncat lagi pada hal lain, Alquran Adz-Dzaariyaat 56-58
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
Ketika saya menerima silogisme tersebut, hal selanjutnya adalah memahami bahwa manusia bukanlah malaikat yaitu sebagai makhluk yang selalu taat dan bukan pula setan yaitu sebagai makhluk yang selalu membangkang.
Semua silogisme tersebut tentu saja tidak akan berlaku bagi orang yang tidak mempercayai agama ataupun bagi orang yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian.
Tentang hal itu, saya teringat dengan hukum kekekalan energi : “energi itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, ia hanya dapat diubah kedalam bentuk energi lain”. Jika diyakini bahwa jiwa manusia adalah salah satu bentuk dari energi kehidupan, maka ia pun seharusnya mengikuti hukum kekekalan energi ini.
Maka ketika sebuah kepercayaan menggunakan tolak ukur benar atau salah, pada sebagian orang hal itu sangat sulit untuk diterima begitu saja. Karena hal itu seperti berada dalam wilayah dogmatis. Namun jika tolak ukurnya berdasarkan untung dan rugi. Dengan mudah hal itu di yakini dan dijalankan.
Seperti 1+1=2. Ketika ditanyakan kenapa 1+1 harus =2 ? maka pertanyaan itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itulah iman, ada untuk dipercayai bukan untuk dipertanyakan.
Tetapi tentang tolak ukur untung-rugi tersebut, saya pahami seperti dalam kutipan Alquran Ash-Shaff 10-12, berikut :
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
Dalam ayat Alquran tersebut saya pahami sepertinya ditawarkan sebuah perniagaan atau perdagangan yang bisa kita anggap menguntungkan atau merugikan. Tetapi saya memilih bahwa perniagaan/perdagangan itu adalah hal yang menguntungkan.
wallohualam bi showab.
Naluri Manusia
September 22nd, 2008 by makaribiTiba-tiba saya teringat tentang 21 orang yang meninggal di Pasuruan saat pembagian zakat, tertanggal 15 September 2008. Tapi sebelumnya saya ingin meloncat ke hal lain.
Saya mencoba membagi naluri manusia menjadi 3 :
1. Naluri tentang ke-Tuhanan
2. Naluri mempertahankan hidup, dan
3. Naluri melanjutkan keturunan.
Saya mencoba menyederhanakan “hidup” manusia kedalam 3 naluri tersebut, naluri manusia untuk hidup di dunia : dunia manusia. Lalu kemudian hidup dan kehidupan manusia apapun itu bentuknya saya anggap tidak akan lepas dari ketiga naluri tersebut.
Pada suatu waktu saya sadar bahwa manusia pada dasarnya memiliki kehendak untuk bebas. Dalam pada itu saya anggap ada paradoks tentang hal ini. Dalam filsafat marxisme sebagai induk komunisme, saya pahami bahwa “pada suatu waktu ketika manusia telah dapat mengerti akan apa yang diinginkan diri mereka sendiri maka tidaklah lagi diperlukan aturan, manusia hanya cukup hidup dengan naluri mereka sendiri”. Dalam filsafat liberalisme yang mencoba mendefinisikan kebahagiaan sebagai bentuk lain dari kebebasan atas hak asasi manusia, dimana orang dianggap bebas ketika mereka berhak melakukan apa yang mereka sukai dengan tanpa merugikan orang lain. Efek lain dari paham itu misalnya : manusia menjadi agnostik “percaya akan Tuhan tetapi tidak percaya agama”
Komunisme : kebahagian ekonomi diusahakan secara bersama-sama.
Liberalisme : kebahagiaan ekonomi diusahakan oleh individu sendiri-sendiri.
Pada dasarnya akar dari dua filsafat yang seolah berlawanan itu menurut saya hanyalah sama. Pada akhirnya dengan landasan dua filsafat itu yang diinginkan adalah bahwa ketika manusia hidup dengan atas dasar naluri mereka maka tragedi-tragedi kemanusiaan dianggap bukanlah sebagai “kekacauan” melainkan sebagai sebuah bentuk seleksi alam. Sadar atau tidak, yang kuatlah yang akan bertahan dan yang lemah hanya akan tersingkir atau musnah.
Kasus 21 orang yang meninggal di pasuruan itu misalnya saya anggap adalah buah dari Liberalisme-Kapitalisme dimana kesejahteraan individu hanyalah diusahakan oleh individu sendiri dan negara tidak campur tangan.
Lalu bagaimana dengan tragedi yang disebabkan oleh Komunisme, justru komunisme lebih “gila” lagi. Dimana hak kepemilikan pribadi tidak diakui, yang diakui adalah hak kepemilikan kolektif. Sebagai contoh adalah tragedi perampasan tanah-tanah dari para tuan tanah oleh Barisan Tani. Maka kejadian selanjutnya akan nampak tidak rasional lagi, karena siklus ekonomi tidak berjalan sewajarnya, tidak ada persaingan untuk kemajuan. Dan kemudian kebahagian bersama itu menjadi bias. Karena semua seperti jalan ditempat.
Tetapi lagi-lagi hal-hal tersebut dianggap sebagai proses alami dari seleksi alam. Yang kuatlah yang bertahan hidup, yang mayoritaslah yang bertahan hidup.
Maka dengan hal itu saya mencoba mendefinisikan tentang adanya perang dan peperangan sebagai sebuah bagian dari naluri alami manusia. Seperti pula mencuri atau korupsi. Pembunuhan atau pembunuhan berantai, dan lain sebagainya. Permasalahan selanjutnya apakah kekacauan yang diakibatkan itu akan dianggap sebagai hal alami atau tidak ?
itulah mengapa menurut saya bahwa agama ada untuk menjadikan manusia sesuai perannya, inilah yang saya pahami dari Islam.
Pada akhirnya saya ingin mengutip tentang sejarah manusia, sejarah adam dan hawa yang ada dalam Alquran : Al Baqarah 30-39.
1\
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?”
2\
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Dari ayat yang saya merahkan tersebut dapatlah dipahami tentang manusia dan tragedi yang akan ditimbulkannya. menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah dan Allah menegaskan selanjutnya sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.
Lalu apa peran yang dimainkan manusia dibumi : bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.
sampai waktu yang ditentukan.
sampai waktu yang ditentukan.
sampai waktu yang ditentukan.
wallohualam bi showab
Q.S Ar Ra’d 26-29
September 1st, 2008 by makaribiAllah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). Orang-orang kafir berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mu’jizat) dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”,(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Q.S Ar Ra’d 26-29)
……………………………………………………………………………………..
Ya Allah golongkan hamba kedalam golongan orang yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amin

