Naluri Manusia II

Tan Malaka pernah bertanya : “Mengapa Tuhan menciptakan manusia kemudian hanya untuk mendapatkan hukuman ?”

Untuk pertanyaan itu, pertama kali saya mengutip silogisme ke-absolut-an Tuhan, dalam Alquran Al Ikhlas 1-4 :

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Dari situ kemudian saya meloncat lagi pada hal lain, Alquran Adz-Dzaariyaat 56-58

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Ketika saya menerima silogisme tersebut, hal selanjutnya adalah memahami bahwa manusia bukanlah malaikat yaitu sebagai makhluk yang selalu taat dan bukan pula setan yaitu sebagai makhluk yang selalu membangkang.

Semua silogisme tersebut tentu saja tidak akan berlaku bagi orang yang tidak mempercayai agama ataupun bagi orang yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian.

Tentang hal itu, saya teringat dengan hukum kekekalan energi : “energi itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, ia hanya dapat diubah kedalam bentuk energi lain”. Jika diyakini bahwa jiwa manusia adalah salah satu bentuk dari energi kehidupan, maka ia pun seharusnya mengikuti hukum kekekalan energi ini.

Maka ketika sebuah kepercayaan menggunakan tolak ukur benar atau salah, pada sebagian orang hal itu sangat sulit untuk diterima begitu saja. Karena hal itu seperti berada dalam wilayah dogmatis. Namun jika tolak ukurnya berdasarkan untung dan rugi. Dengan mudah hal itu di yakini dan dijalankan.

Seperti 1+1=2. Ketika ditanyakan kenapa 1+1 harus =2 ? maka pertanyaan itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Itulah iman, ada untuk dipercayai bukan untuk dipertanyakan.

Tetapi tentang tolak ukur untung-rugi tersebut, saya pahami seperti dalam kutipan Alquran Ash-Shaff 10-12, berikut :

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Dalam ayat Alquran tersebut saya pahami sepertinya ditawarkan sebuah perniagaan atau perdagangan yang bisa kita anggap menguntungkan atau merugikan. Tetapi saya memilih bahwa perniagaan/perdagangan itu adalah hal yang menguntungkan.

wallohualam bi showab.

Comments are closed.