Archive for November, 2008

Sontag, Citra, Waktu (Fotografi)

Sunday, November 16th, 2008

Jika seni rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka fotografi adalah bahasa. Antara lain karena kemampuannya yang tanpa preseden dalam mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni. “Fotografi adalah medium yang dengannya seni diciptakan-Susan Sontag menggartikan kalimat ini di buku On Photography. Pendapat yang menandaskan bahwa fotografi-dan tentu saja sinema-adalah bahasa, sudah muncul juga, misalnya, pada AndrĂ© Bazin. Dengan memumpunkan perhatian pada fotografi dan menangguhkan pertautannya dengan sinema, Sontag menggarap dan memperkokoh pendirian itu lebih lanjut. Di OP, kitab tipis yang menjadi salah satu “karya terpenting tentang fotografi”, Sontag bahkan menyebut fotografi sebagai sebuah meta-seni: sebuah medium sekaligus cita-cita tertinggi seni. Di abad ke-19, Walter Pater menyebut bahwa semua seni bercita-cita menjadi seperti musik yang mampu melebur habis bentuk dan isi. Sontag, di abad ke-20, mengoreksi pendapat Pater dan menandaskan betapa semua seni justru bercita-cita menjadi seperti fotografi. Selain sanggup hidup seperti musik yang mengolah mediumnya sebagai isi itu sendiri, fotografi juga berwatak demokratis karena bisa dikerjakan oleh siapapun-serempak mengeram kekuatan revolusioner mendobrak diskriminasi antara seni buruk dan seni indah.

Di buku Regarding the Pain of Others, Sontag kembali mengangkat kekuatan fotografi-khususnya kekuatan yang membuat meta-seni pelukisan dengan cahaya itu sanggup mewujudkan cita-cita mustahil sastra. Watak obyektif pada fotografi adalah sesuatu yang niscaya: hubungan antara fotografi dan obyektivitas adalah hubungan antara garam dapur dan rasa asinnya, antara butir intan dan kerapian struktur karbonnya. Sesuatu bahkan bisa disebut benar-benar terjadi jika ada fotonya-sebuah jaminan sekaligus tilas yang diabadikan bukan oleh makhluk hidup yang bisa subyektif, tetapi oleh benda mati yang tak punya pikiran dalam dirinya sendiri: kamera. Namun, kamera bisa mengabadikan tilas karena ada tangan yang membidikkannya; subyek yang punya pikiran sendiri. Gabungan antara kamera dan fotografer itu memungkinkan fotografi menjadi rekaman obyektif sekaligus testimoni pribadi; menjadi copy atau transkrip sebuah momen aktual realitas, serentak interpretasi atas realitas itu. Paduan dua segi istimewa yang saling langgar ini, menurut Sontag, adalah cita-cita abadi sastra yang tak dapat diwujudkan secara harfiah oleh sastra.

Oleh : Nirwan Ahmad Arsuka (Jurnal Kalam)

……………………………………………………………………………………………………………..

Naluri Manusia III

Sunday, November 9th, 2008

Beberapa waktu yang lalu lagi-lagi saya harus berurusan dengan pencopet, waktu itu saya didalam bus sepulang dari Cianjur. Entah ini kali keberapa pencopet mencoba “menggasak” saya. Beberapa kali dijakarta atau dalam kereta api. Dan hasil mereka sama = Nihil, alias dompet dan HP saya masih aman. Tapi orang dibelakang saya sempat kena jambret HP-nya lantas ia segera berteriak, pencopet itu pun melempar kembali HP-nya (karena tahu bahwa yang dijambret itupun juga berombongan) : dasar apes kok ketahuan. sebelum pencopet itu loncat turun, saya sempat berteriak “udah pukulin aja”… dan saya merasa sebagai provokator.

Beberapa kali dalam kondisi yang menegangkan seperti itu saya selalu mencoba tenang, karena saya tahu mereka tidaklah bersendiri melainkan berkelompok tiga atau empat orang. Sementara saya sendirian. Jika saya berteriak bukan tidak mungkin malah saya-lah yang mereka pukulin beramai-ramai.

Mengingat hal itu saya tiba-tiba mengenang kembali kenakalan masa-masa kecil. Seperti mencuri jambu tetangga pada waktu SD, ataupun suka memalak teman waktu SMP. Yah semua itu tak lepas dari pengaruh teman-teman main saya waktu itu. Misalnya teman main yang lebih tua dari saya selalu membantu saya jika saya berantem. Dan dari dia pula yang mengenalkan “tradisi” memalak. Tapi kini teman itu pun telah meninggal karena sakit, dulu dia sering juga mengkonsumsi alkohol dan ganja.

Sebelum terlanjur, Ayahlah yang waktu saya SMP menerangkan dan menasehati hal-hal yang tidak benar yang dilakukan teman-teman main saya waktu itu. Ayah selalu membatasi pergaulan saya dan tak segan-segan untuk memukul saya jika saya membantahnya. Kini saya tahu apa arti dari semua kekerasan itu. Saya sadar akhirnya semua itu berbuah manis bagi saya.

Maka tak heran jika beberapa tahun kemudian ketika beberapa teman bertemu saya, mereka ada yang berbagi cerita menjadi pengamen, pencopet atau bahkan tentang penjara. Yah mereka semua adalah bagian dari masa kecil saya. Dan (mungkin) saya masih mereka anggap sebagai teman.

Akhirnya tentang pencopet didalam bus itupun tak saya anggap berlarut-larut, karena mungkin. Teman main saya waktu kecil ada yang seperti mereka.

- Kita tumbuh bukan untuk mencari jati diri tetapi menciptakan jati diri -

bersambung

Puisi dan Fotografi, dua dunia berbeda, satu rasa. (sebuah coretan saja)

Sunday, November 9th, 2008

tentangku, Ayah dan kakekku.

1\\

Dulu ayah suka melukis

sebelum masa mengenal kapur tulis

kala itu ia pakai pensil tubuhnya masih dekil,

ia tak tahu kapan benar-benar suka membuat rupa,

mungkin sejak ia ditinggal ayahnya dan ia masih balita,

mungkin saat itu ia mulai suka menggambar foto kakek di ruang tamu

orang yang baru sempat tiga kali ketemu,

Tapi ayah belum tahu apa itu rindu

2\\

Kakek : tentara yang meninggal muda

beliau wafat sepulang dari halmahera dalam sebuah kecelakaan bis,

Dan kata ayah, kakek suka menulis,

sebelum wafat ia sempat titipkan pena dan buku dari saku bajunya.

3\\

Dari kecil ayah suka memberiku atribut tentara

dari baju, tas hingga celana, katanya aku ini cucu tentara.

Ah kakek yang tak pernah kulihat wajahnya. waktu berlalu dan aku beranjak remaja

“ayah aku ingin masuk tentara”

tapi ayah diam saja,

lalu ibu berbisik “nenekmu tidak suka anak-cucunya menjadi pelukis, penulis atau tentara”

……………………………………..

waktu saya kecil (SD) saya ingat betul, saya suka main musik dan melukis. Pernah ikut lomba grup musik, walaupun pada akhirnya hanya mendapat juara harapan di tingkat kabupaten. Dan melukis ? hmm saya sering diikutkan lomba dan hasilnya sangat mengecewakan, harus puas diurutan dua di sekolah saya waktu itu. Lalu puisi ? puisi tidak saya anggap sebagai sebuah kesukaan melainkan sebuah pembawaan. Kenangan saya dengan puisi adalah kenangan kekecewaan, kecewa karena tak jadi mewakili sekolah dalam lomba baca puisi, kecewa karena karya saya tak pernah dimuat sekalipun dalam media masa… yah mungkin puisi-puisi saya adalah puisi “mentah”. Tapi entah kenapa puisi tak bisa lepas dari hidup saya. Seperti ketika sepi ketika sendiri, ia mengalir begitu saja seperti napas. Puisi bagi saya sangat individualistik. Saya tetap bisa menikmatinya meski saya baca pada waktu yang jauh berbeda. Karena ia telah merekam dunia kecil saya secara sublim.

Saya berhenti bermain musik, waktu itu karena saya tahu ayah saya memainkan lebih baik dari pada saya. Dan saya pun tak berminat lagi untuk belajar atau bahkan kursus seperti yang teman lain lakukan.

Tentang melukis, ayah-lah yang mengajari saya. ketika kecil saya sering memintanya untuk menggambarkan yang saya inginkan… Dan ketika SMP saya lebih menyukai gaya “ekspresionisme” dari pada gaya ayah saya yang “realisme”.

Dan ayah-pun tak pernah melukis lagi, semenjak Drop Out dari Arsitektur UI karena keterbatasan biaya. Sekarang dimasa tuanya saya yang masih berharap ia mau melukis lagi… namun ia menjawab “nenekmu tak suka aku melukis”.

Kesukaan melukis saya telah lama terpendam. Karena waktu yang mulai terbatas kini… Akankah kesukaan saya melukis bisa terwakilkan oleh fotografi ? saya pikir iya. karena ayah pernah bilang : “fotografi itu melukis dengan cahaya”.

yah saya masih belajar. karena hidup adalah belajar tiada henti…

……..

Dihadapan-Mu aku ingin menjadi kamera
memotret setiap keindahan yang Kau cipta dengan sengaja
Dihadapan-Mu aku ingin menjadi puisi
untuk setiap sunyi yang engkau beri

…….