Naluri Manusia III
Beberapa waktu yang lalu lagi-lagi saya harus berurusan dengan pencopet, waktu itu saya didalam bus sepulang dari Cianjur. Entah ini kali keberapa pencopet mencoba “menggasak” saya. Beberapa kali dijakarta atau dalam kereta api. Dan hasil mereka sama = Nihil, alias dompet dan HP saya masih aman. Tapi orang dibelakang saya sempat kena jambret HP-nya lantas ia segera berteriak, pencopet itu pun melempar kembali HP-nya (karena tahu bahwa yang dijambret itupun juga berombongan) : dasar apes kok ketahuan. sebelum pencopet itu loncat turun, saya sempat berteriak “udah pukulin aja”… dan saya merasa sebagai provokator.
Beberapa kali dalam kondisi yang menegangkan seperti itu saya selalu mencoba tenang, karena saya tahu mereka tidaklah bersendiri melainkan berkelompok tiga atau empat orang. Sementara saya sendirian. Jika saya berteriak bukan tidak mungkin malah saya-lah yang mereka pukulin beramai-ramai.
Mengingat hal itu saya tiba-tiba mengenang kembali kenakalan masa-masa kecil. Seperti mencuri jambu tetangga pada waktu SD, ataupun suka memalak teman waktu SMP. Yah semua itu tak lepas dari pengaruh teman-teman main saya waktu itu. Misalnya teman main yang lebih tua dari saya selalu membantu saya jika saya berantem. Dan dari dia pula yang mengenalkan “tradisi” memalak. Tapi kini teman itu pun telah meninggal karena sakit, dulu dia sering juga mengkonsumsi alkohol dan ganja.
Sebelum terlanjur, Ayahlah yang waktu saya SMP menerangkan dan menasehati hal-hal yang tidak benar yang dilakukan teman-teman main saya waktu itu. Ayah selalu membatasi pergaulan saya dan tak segan-segan untuk memukul saya jika saya membantahnya. Kini saya tahu apa arti dari semua kekerasan itu. Saya sadar akhirnya semua itu berbuah manis bagi saya.
Maka tak heran jika beberapa tahun kemudian ketika beberapa teman bertemu saya, mereka ada yang berbagi cerita menjadi pengamen, pencopet atau bahkan tentang penjara. Yah mereka semua adalah bagian dari masa kecil saya. Dan (mungkin) saya masih mereka anggap sebagai teman.
Akhirnya tentang pencopet didalam bus itupun tak saya anggap berlarut-larut, karena mungkin. Teman main saya waktu kecil ada yang seperti mereka.
- Kita tumbuh bukan untuk mencari jati diri tetapi menciptakan jati diri -
bersambung