Puisi dan Fotografi, dua dunia berbeda, satu rasa. (sebuah coretan saja)
tentangku, Ayah dan kakekku.
1\\
Dulu ayah suka melukis
sebelum masa mengenal kapur tulis
kala itu ia pakai pensil tubuhnya masih dekil,
ia tak tahu kapan benar-benar suka membuat rupa,
mungkin sejak ia ditinggal ayahnya dan ia masih balita,
mungkin saat itu ia mulai suka menggambar foto kakek di ruang tamu
orang yang baru sempat tiga kali ketemu,
Tapi ayah belum tahu apa itu rindu
2\\
Kakek : tentara yang meninggal muda
beliau wafat sepulang dari halmahera dalam sebuah kecelakaan bis,
Dan kata ayah, kakek suka menulis,
sebelum wafat ia sempat titipkan pena dan buku dari saku bajunya.
3\\
Dari kecil ayah suka memberiku atribut tentara
dari baju, tas hingga celana, katanya aku ini cucu tentara.
Ah kakek yang tak pernah kulihat wajahnya. waktu berlalu dan aku beranjak remaja
“ayah aku ingin masuk tentara”
tapi ayah diam saja,
lalu ibu berbisik “nenekmu tidak suka anak-cucunya menjadi pelukis, penulis atau tentara”
……………………………………..
waktu saya kecil (SD) saya ingat betul, saya suka main musik dan melukis. Pernah ikut lomba grup musik, walaupun pada akhirnya hanya mendapat juara harapan di tingkat kabupaten. Dan melukis ? hmm saya sering diikutkan lomba dan hasilnya sangat mengecewakan, harus puas diurutan dua di sekolah saya waktu itu. Lalu puisi ? puisi tidak saya anggap sebagai sebuah kesukaan melainkan sebuah pembawaan. Kenangan saya dengan puisi adalah kenangan kekecewaan, kecewa karena tak jadi mewakili sekolah dalam lomba baca puisi, kecewa karena karya saya tak pernah dimuat sekalipun dalam media masa… yah mungkin puisi-puisi saya adalah puisi “mentah”. Tapi entah kenapa puisi tak bisa lepas dari hidup saya. Seperti ketika sepi ketika sendiri, ia mengalir begitu saja seperti napas. Puisi bagi saya sangat individualistik. Saya tetap bisa menikmatinya meski saya baca pada waktu yang jauh berbeda. Karena ia telah merekam dunia kecil saya secara sublim.
Saya berhenti bermain musik, waktu itu karena saya tahu ayah saya memainkan lebih baik dari pada saya. Dan saya pun tak berminat lagi untuk belajar atau bahkan kursus seperti yang teman lain lakukan.
Tentang melukis, ayah-lah yang mengajari saya. ketika kecil saya sering memintanya untuk menggambarkan yang saya inginkan… Dan ketika SMP saya lebih menyukai gaya “ekspresionisme” dari pada gaya ayah saya yang “realisme”.
Dan ayah-pun tak pernah melukis lagi, semenjak Drop Out dari Arsitektur UI karena keterbatasan biaya. Sekarang dimasa tuanya saya yang masih berharap ia mau melukis lagi… namun ia menjawab “nenekmu tak suka aku melukis”.
Kesukaan melukis saya telah lama terpendam. Karena waktu yang mulai terbatas kini… Akankah kesukaan saya melukis bisa terwakilkan oleh fotografi ? saya pikir iya. karena ayah pernah bilang : “fotografi itu melukis dengan cahaya”.
yah saya masih belajar. karena hidup adalah belajar tiada henti…
……..
Dihadapan-Mu aku ingin menjadi kamera
memotret setiap keindahan yang Kau cipta dengan sengaja
Dihadapan-Mu aku ingin menjadi puisi
untuk setiap sunyi yang engkau beri
…….